Ceritaku Naik Kapal Ferry Tao Toba ke Samosir

by - May 01, 2018

Ibu Dila muncul lagi .... Yeeey

Kira-kira ada yang kangen gak ya ? *siapkan tas kresek warna hitam buat yang gak kuat baca pertanyaan tadi*πŸ˜„

Seperti janji saya di tulisan sebelumnya, kali ini saya mau ngelanjutin cerita keseruan liburan kami ke Samosir awal April kemarin

Yang belum baca cerita sebelumnya bisa baca disini, teman 😊

***

" Para penumpang kendaraan harap masuk ke kendaraannya masing - masing " terdengar perintah dari pengeras suara di Pelabuhan Ferry Ajibata


Yup, untuk penumpang yang membawa kendaraan sendiri dilarang masuk dengan berjalan kaki saat naik ke kapal. Mungkin maksudnya untuk mempercepat naiknya penumpang ke kapal ferry Tao Toba 2, yang akan membawa kami ke Samosir

Satu per satu kendaraan pun masuk mundur ke dalam kapal ferry. Ada mobil, truk pasir hingga bis. Kebetulan di Samosir memang sedang banyak perbaikan jalan. Sepertinya truk pengangkut pasir itu, untuk mendistribusikan material ke proyek itu

Sekitar 30 mobil muat dalam satu kali menyeberang

***

" Bang lempar uang koinnya, Bang " terdengar teriak seorang anak laki-laki dari air, ke seorang penumpang pria yang berdiri di dek kapal. Pria itu tampak mengacuhkan anak laki-laki tadi

Wah, ini dia yang saya tunggu-tunggu. Kemunculan si anak koin di Pelabuhan Ferry Ajibata

Anak koin yang biasa saya lihat di TV, akhirnya muncul juga. Ih senangnya saya ...

" Hei, sini " teriak saya

" Lempar koinnya, Kak " teriak anak laki-laki berkulit hitam itu sambil mendekat ke arah saya

" Tunggu ya " kata saya sambil mencari koin dan uang dua ribuan

Meski saya menunggu kemunculan si anak koin, saya gak sempat menyiapkan koin. Jadi saya harus cari-cari dulu

Koin yang dicari pun ketemu. Ada sekitar sepuluh ribu rupiah, dalam bentuk koin  lima ratus dan seribu. Dan 2 lembar dua ribuan

Si anak koin sudah siap menanti lemparan uang dari saya

Plung ... Plung

Anak koin 



Satu persatu koin pun saya jatuhkan. Dan yeeey, si anak koin bisa menemukannya. Pantulan cahaya matahari membantunya menemukan koin saya

( Terjawab sudah rasa penasaran saya selama ini ) πŸ€—

" Kakak sama adik mau coba gak ?" Tanya saya ke anak-anak

" Mau " kata Kakak

" Aku gak mau " kata adiknya ( si adik emang udah tegang saat mulai mau naik kapal )

" Ya udah, sini keluar dari mobil " kata saya

Si Kakak pun melempar koin. Plus uang kertas dua ribuan yang dibungkus di koin

Tut ... Tut ...

Bunyi klakson kapal disertai bunyi rantai penutup pintu kapal pun terdengar. Tanda kapal ferry Tao Toba 2 yang akan membawa kami ke Samosir, akan berangkat

Saya pun kembali masuk mobil

" Yuk, kita naik aja daripada di mobil " kata saya ke suami dan anak-anak

" Ya udah " kata suami

Si Kecil yang awalnya menolak buat keluar mobil, mau juga keluar untuk naik ke dek atas penumpang

Kapal Tao Toba 2 yang membawa kami ke Samosir penuh saat itu

Mau foto aja kudu mepet saking penuhnya πŸ™„
Kami pun melangkahkan kaki menuju dek atas, tempat penumpang bisa duduk

Tampak meja penjual mie instan dan kopi di dekat tangga untuk naik ke atas dek. Tangga di kapal Tao Toba 2 ini sungguh sempit dan curam. Cuman cukup satu badan  penumpang orang dewasa aja, cyin ... Huh

Dengan jendela tanpa kaca langsung di tepi tangga, sungguh bikin saya yang gak bisa berenang ini deg-degan untuk naik. Coba kalo kepeleset, bisa kecemplung ke danau. Kan sereeeem

Baru naik sebentar, gak sampai satu menit kami langsung turun balik lagi ke mobil

Gak cuman tangganya yang curam dan sempit. Dek atas pun sempit dengan bau rokok yang luar biasa. Bikin saya pusing seketika

( Untuk cerita dek kapal Tao Toba 1 yang membawa saya ke Samosir, maaf gak sempat  foto. Saya terlalu tegang saat itu )

Biar gak penasaran, ini saya kasih dek atas kapal Tao Toba 1 aja ya. Kapal ini yang akhirnya membawa saya pulang dari Samosir. Dek atas penumpangnya jauh lebih luas dari pada Tao Toba 2

Dek atas Kapal Tao Toba 1, yang lebih luas dan nyaman daripada Tao Toba 2. Berasa milik pribadi aja ... Sepi, cyin πŸ˜…πŸ˜…
Baru masuk mobil sebentar tiba-tiba si Kecil bilang dengan suara pelan " Aku takut naik kapal " dengan ekspresi ketakutan dan udah terlihat mau nangis

Ya Tuhan, ini anak kenapa bicara begitu. Dia gak tau apa, kalau emaknya juga stress naik kapal ... Hiks

" Adik, mau liat film gak ? " tawar saya

" Film apa ? " tanya si Kecil masih dengan ekspresi takut naik kapal

" Terserah " jawab saya sambil menjulurkan hp

Alhamdulillah, tawaran memakai hp emaknya lumayan ampuh untuk bikin dia gak bilang " Aku takut naik kapal " lagi

Gak mau turun mobil lagi, saking takutnya naik kapal πŸ˜…
Untungnya sinyal si operator merah kencang sekali di tengah Danau Toba. Jadi si Kecil bisa puas nonton film di You Tube. Horeeeee ... Emak bahagia hahaha *bukan bahagia receh loh ya*

Entah berapa kali penjual kacang rebus mondar-mandir menawarkan dagangannya

Cuma karena sibuk bikin si Kecil nyaman naik kapal. Dan biar dia gak bilang " Aku takut naik kapal " lagi. Saya gak begitu memperdulikan ibu penjual kacang itu

Setelah setengah jam perjalanan, Alhamdulillah si Kecil udah sibuk main hp. Lumayan lah buat bikin dia lupa sejenak ketakutannya

Ketakutan si Kecil naik kapal bahkan baru saya ceritain ke suami saat kami udah di tengah perjalanan pulang dari Samosir

" Ah, masak sih adik ketakutan ?" Tanya suami gak percaya

" Mas gak tau kan. Emang aku sengaja gak bilang pas itu. Bisa bubar jalan aku kalo cerita ke Mas sama Kakak " jawab saya

Karena kalau saya cerita saat itu, si Kakak sama Papanya bisa ngegodain si Kecil abis. Eh bukannya bikin tenang. Bisa-bisa si Kecil malah nangis ketakutan

Pusyiiiing kepala belbie kan bo' ...

Setelah si Kecil mulai tenang, saya baru keluar buat menikmati suasana kapal

Rupanya, sama kayak di Pelabuhan Ferry Ajibata. Ada para pengamen kecil juga loh. Biar lebih berasa kalau saya lagi di tanah Batak Toba, saya minta aja mereka buat nyanyi .... Asiiiik

Dua buah lagu Batak, saya minta mereka nyanyikan


Angin danau terasa mengaliri wajah saya siang itu. Sejuk sekali

Pelabuhan Tomok di Samosir sudah makin terlihat. Artinya kapal akan menepi di Samosir. Alhamdulillah ...

Cerita dua malam di Samosir pun di depan mata, siap saya ukir bersama keluarga tercinta 😍

***

Eh, tunggu dulu

Tulisan Ibu Dila ini belum selesai loh. Hihihi ...

Berbeda dengan perjalanan berangkat saya. Perjalanan pulang saya kembali ke Medan, saya dapat kapal Tao Toba 1

Jika sebelumnya saya harus menunggu 3 jam lebih untuk menyeberang ke Samosir. Di perjalanan pulang ini saya seperti dapat golden tiket

Lah gimana enggak ? Saat itu sebetulnya saya mengincar kapal jam 10.00 dari Tomok

Eh rupanya di Minggu pagi itu, kapal Tao Toba 1 dioperasikan buat kapal tambahan. Karena dari Ajibata penuh dengan wisatawan pagi itu

Jadilah kami yang semula berpikir bakal menunggu satu jam di Pelabuhan Tomok, malah dibuat tergesa-gesa dengan adanya kapal tambahan itu

" Cepat naik kapal, Kak. Udah mau berangkat itu " kata petugas tiket

" Apaaaa ? Beneran, Mbak " jawab saya kaget bukan main

Kami pun menyeberang kembali ke Ajibata jam 9 pagi dengan kapal diluar jadwal reguler itu. Maunya santai dulu di Pelabuhan Tomok sambil foto-foto syantik gagal deh

Tapi senang juga sih hahaha

Kapal siap meninggalkan Pelabuhan Tomok, Samosir

Kapalnya kosong euy 😍
Udah lebih cepat nyebrangnya

Kapal kosong pula

Dan saya pun bisa beli lesung kayu buat masak ubi tumbuk ( masakan khas Tapanuli Selatan ), di seorang bapak pedagang yang kebetulan naik kapal itu juga

Namanya emak-emak gitu loh, gak bisa liat sesuatu yang lutju buat dibeli. Biarpun itu di kapal ferry *untung bapak suami paham sama istrinya ini* πŸ˜…

Sebuah lesung kayu seharga 40 ribu rupiah pun berpindah ke tangan saya. Tuing... Tuing

Dan ... sampai saya menulis cerita ini, lesung kayu phenomenal itu belum saya pakai

Maafkeun aku ya, suamiku tersayang  😁

Jomblo dilarang baper liat mereka πŸ˜„πŸ˜„
Foto saya sambil memegang lesung kayu dengan latar belakang pasangan yang sedang jatuh cinta itu, mengakhiri cerita Ibu Dila kali ini

Terima kasih dan sampai jumpa di petualangan kami di Samosir selanjutnya  😘😘😘




















You May Also Like

20 comments

  1. Aku siapin kantung plastik tapi ngga berfungsi kok,kak 😁
    [Seperti kalimat pembuka di atas]

    Unik juga ya kisah simbol lesung kayu itu.
    Jadi ngingetin lesung dan alu yang ada di legenda Rawa Pening.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kantung hitamnya gak berfungsi ya. Alhamdulillah πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  2. Mba Dila, bisa menikmati pemandangan laut dan anak-anak koin. Melihat keunikan Indonesia. Aku pernah lihat di teve, si bolang atau apa gitu. Anak-anak pantai dengan sigap menangkap koin yang dilembar ke laut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya aku gak penasaran lagi kenapa mereka bisa liat koin di danau, Mbak Nur. Penasaran bertahun-tahun ... Akut hihihi

      Delete
  3. Uwaaaaa aku belum pernah ke Samosir. Lebih tepatnya belum pernah ke Sumatra. Semoga lain waktu terwujuuud πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

    Yaudah mbak, kutunggu masakan ubinya yang pake lesung kayu itu. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku doain semoga kelak bisa wisata ke Samosir, Mbak ... Aamiin

      Nanti deh kalo udah sukses masak ubi tumbuk, aku bakal publish tulisannya ... Hihihi

      Delete
  4. Horeee, munluc again :D
    Saya pengen deh naik kapal gitu, Teh. Tapi belum ada tujuan yang mengharuskan naik kapal..he

    Semoga aja suatu saat nanti bisa naik kapal dan bisa lihat langsung lempar koin itu..he

    Saya malah nggak fokus ke kedua orang itu, fokus sama apa yang di pegang teh Dila :D

    Naksir sama lesungnya eung. Btw berapaan harganya, Teh? Itu beli atau pegang buat foto aja..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiii, Mas Andy

      Lesungnya beli dong. Aiiish somse deh hahaha. Buat kenang-kenangan ceritanya sih. Cuman belum dipakai sampe sekarang euy. Untung bapak suami gak nanyain " Kok gak dipake-pake lesungnya " πŸ˜‚

      Delete
  5. Ha..ha, foto yang terakhir...gagal fokus, mlh lihat backgroundπŸ˜€πŸ˜€

    Enak ya fery nya..meski dr mobil bisa lihat pemandangan. Terakhir naik fery 2004.. penyebrangan Jawa-Bali...

    Setelah itu, blm pernah nyebrang pulau lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneeeer, pasangan itu emang jadi background yang menarik toh Mbak hahaha... kapan lagi coba

      Delete
  6. Itu kapal segede itu, kami nyebutkan dengan namanya kapal Roro..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama emang kok Mas Mirwan. Beda nama doang πŸ˜„

      Delete
  7. wow, kapalnya besar sekali ya Bu.
    belum berkesempatan naik kapal ini waktu ke Medan Februari lalu.
    semoga bisa balik lagi dan mencoba sensasinya naik kapal ferry tao Toba :)

    terima kasih infonya ya Bu.

    ReplyDelete
  8. Aduh, anak koin itu aku baru tau loh ada begituan. Unik sekalii.. Kalau anak ak liat pasti senang deh. :) ak anaknya takut naik fery mb dila.. Bawaannya mabuk. Haha

    ReplyDelete
  9. Mbaaaa aku pgn makan ubi tumbuk hahahahaha.. Sebagai org batak, wajib adalah lesung begitu. Tp dulu mamaku punyanya yg besi mba :p. Aku prnh ya coba numbuk, giliiiing berat ya cyyyiin wkwkwkwk.. Utk mukul orang bisa modyar. Kalo skr, mama udh ga kuat pake alu begitu. Jd palingan digiling kasar pake blender :(

    ReplyDelete
  10. Menarik banget mbak! Dari dulu aku pengen loh main ke danau toba tapi belum kesampaian. Lihatin cerita kayak gini makin mupeeengg

    ReplyDelete
  11. Saya sendiri belum pernah naik kapal besar itu. Biasa kalau menyeberang, hanya ke Tomok atau Tuk Tuk, jadi naik speedboat atau kapal feri penumpang.
    Kapal besar itu kalau sudah tiba hari libur, kendaraan untuk naik saja mengantri sampai 5 jam. Lumayan pegal ya itu.

    ReplyDelete
  12. Ceritanya seru dan heboh, belum pernah sama sekali ke Medan apalagi ke Samosir. Jadi hanya bisa membayangkan saja dari cerita Kakak.

    ReplyDelete
  13. Walaupun masih di Sumatera Utara dirimu tinggal, tapi ke Samosir ini tetap melintasi laut juga ya, Mba. Anak koin, mengingatkan saya pas nyeberang Merak, dulu banget sebelum kenal naik pesawat, haha... Nice ya, Mba. Ikut suami kerja pindah2, jadi bisa traveling ke banyak tempat.

    ReplyDelete
  14. Serunya jalan-jalan naik kapal :)

    Dulu aku sempat takut naik kapal lho karena takut mabuk, ternyata pas dicoba malah nagih tanpa mabuk laut hihihi. Pengalaman naik kapal yang menyenangkan ke nusa penida juga pernah aku share di blogku :)

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    ReplyDelete