Menunggu Antrian Kapal ke Samosir, Ngapain Enaknya Ngapain Ya ?

by - April 24, 2018


Jam menunjukkan pukul 10.10 Jum'at itu. Terlihat satu mobil di depan saya, sedang antri di tembok tinggi putih pintu masuk Pelabuhan Ferry Ajibata, Kabupaten Simalungun. Tampak sang sopir turun membeli kacamata hitam di penjual kacamata keliling

Yess, berarti saya bisa ikut menyeberang ke Samosir nanti jam 10.30. Pikir saya 

***
Akhir pekan pertama di awal bulan April ini, saya dan keluarga memang merencanakan liburan ke Samosir. Dan saya sengaja memilih liburan kesana di akhir minggu biasa. Yah supaya gak padat aja sih 

Tepat jam 6 pagi kami keluar dari rumah menuju ke Pelabuhan Ferry Ajibata yang letaknya 191 km dari rumah

Langit masih gelap saat kami keluar rumah. Tapi mobil sudah cukup banyak yang berlalu lalang. Di Medan, jam 6 pagi emang masih gelap ya teman

Kami memang lebih suka berangkat pagi sebelum sarapan. Supaya lebih santai dan gak kena macet. Sarapannya kami berhenti di SPBU atau masjid 

" Say, mau coba masuk lewat tol. Nanti pemandangan sawitnya bagus loh ? " kata suami. Sebetulnya saya saat itu lebih ingin melewati lintas timur Sumatera yang biasanya kami lewati aja. Supaya bisa melihat kabut pagi yang indah di jalan yang kanan kirinya terlihat sawah membentang itu. Cuman karena penasaran dengan tol yang belum genap setahun beroperasi ini. " Beneran bagus ? Ya udah deh " jawab saya 

Kendaraan pun diarahkan suami menuju pintu tol Lubuk Pakam yang bernuansa biru kuning dengan ornamen khas Melayu itu

Indahnya matahari terbit pagi itu
Beruntungnya saya, pagi itu rupanya kabut pun terlihat di jalan tol yang masih baru itu. Kebun sawit milik PT Perkebunan Nusantara ( PTPN ) terbentang sangat luas di sepanjang jalan. Bonusnya pun saya bisa melihat matahari terbit di timur dengan warna orange sempurna mirip kuning telur. Masya Allah indahnya

Karena jalan tol ini masih dalam proses pembangunan, kami pun keluar di pintu tol Perbaungan

Perut pun mulai krucuk-krucuk minta diisi nasi

Masjid Al Ihsan Wannaja milik PT Perkebunan Nusantara 3 Kebun Rambutan di Tebing Tinggi pun jadi pilihan kami untuk tempat sarapan. Sekalian ke kamar mandi juga sih. Maklum pagi itu udaranya dingin, jadi pengen pipis deh ... Hihihi 

Nasi bekal pun dikeluarkan. Eh, ternyata kami gak sendiri loh. Ada 3 mobil lain juga yang lagi sarapan rupanya. Yesss ... Senang saya. Ada kawannya

Para kucing yang sabar menunggu adik makan 😄
Namanya juga anak-anak. Eh, ada kucing 3 ekor meong-meong. Diajak mainlah sama mereka berdua. Sambil dikasih makan tulang ayam kampung sisa sarapan kami. Rencana 30 menit aja istirahat plus sarapan disana, molor deh jadi 1 jam

***
Hampir jam 9 pagi, kami memasuki Pematang Siantar. " Bisa gak ya naik kapan jam 10.30 ?" kata suami sambil liat jam tangan saat mengisi bahan bakar 

" Bismillah aja deh " kata saya. Sebenarnya harap-harap cemas juga sayanya

Alhamdulillah tak banyak truk Fuso panjang berisi log kayu yang melintas di jalur lintas tengah Sumatera siang itu. Hanya 2 yang kami temui di jalan 

Tak lama Danau Toba pun mulai terlihat dari ketinggian. Yeah, udah mau dekat Parapat. Berarti Pelabuhan Ferry Ajibata udah deket juga

Dengan jalan makin menurun, kami pun tiba di depan pintu Pelabuhan Ferry Ajibata 

Mobil yang belum boleh masuk ke Pelabuhan Ferry Ajibata
" Bang, antrinya dari sini " kata seorang petugas disana sambil menunjuk ke tembok putih depan Pelabuhan Ferry Ajibata. Saat suami mengarahkan kendaraan kami masuk ke parkiran pelabuhan. Melewati satu kendaraan keluarga warna hitam yang parkir tepat di tembok putih itu  

" Lah itu masih kosong " kata suami saat melihat parkiran pelabuhan yang masih terlihat lapang itu

" Itu yang udah mau naik kapal, Bang " jawab petugas dengan ramah. " Abang parkir di belakang kendaraan warna hitam itu " katanya lanjut

" Bang, ini kapal jam 10.30 udah mau berangkat ya ?" tanya saya ke petugas itu. " Iya , Kak " jawabnya

" Berarti kami naik kapal jam 13.30 dong ?" tanya saya. " Gak tau nanti, Kak. Nanti kalo masih bisa masuk. Kakak bisa ikut kapal ini " jawabnya

Rupanya bukan rejeki kami. Kendaraan warna hitam tepat di depan kami itupun bisa ikut menyeberang dengan jadwal 10.30

Rencana menyeberang ke Samosir jam 10.30, supaya bisa mengejar sholat Jum'at di Samosir pun bubar

" Bang, lima ribu " kata petugas itu sambil menempelkan stiker di spion kendaraan .
" Tiketnya berapa, Bang ?" tanya saya. " Ini buat nomer antrian aja, Kak. Tiketnya nanti di dalam" jawabnya sambil meminta kami memasukkan kendaraan ke tanah lapang parkir Pelabuhan Ferry Ajibata

Antrian mobil di dalam parkiran. Sudah lumayan mendung suasananya, tidak terik seperti saat kami datang. Mobil di parkiran ini, adalah yang akan naik ke kapal
Panasnya Pelabuhan Ferry Ajibata saat kami datang sangat terik

Kapal Tao Toba 2 yang mengangkut penumpang pukul 10.30 pun membunyikan klaksonnya. Tanda akan berangkat 

" Ngapain kita disini ? " kata adik. " Ya udah nunggu disini, Nak " jawab saya. "Boseeen " jawabnya

Jam pun sudah mulai mendekati pukul 11.00. " Say, sholat Jum'at dimana ini ?" tanya saya ke suami. " Mau naik lagi ke Parapat ?" tanya saya. Satu-satunya masjid terdekat disana yang jaraknya 3 km dari pelabuhan. Dan musholla pun tak tersedia di Pelabuhan Ferry Ajibata ini 

Suami pun menjawab " Udah nanti sholat di Samosir aja. Dijamak. Kita kan musafir. Nanti kalo naik lagi. Kita dapat kapal jam berapa ? "

O iya, teman. For your information, sholat Jum'at di Medan dan Sumatera Utara pada umumya dimulai pukul 12.30. Dan selesai pukul 13.15

Jika suami sholat Jum'at dulu di masjid  Parapat, kemungkinan besar kami ketinggalan lagi kapal jam 13.30. Dan kami pun harus ikut jadwal berikutnya lagi yaitu pukul 16.30

Yang artinya kami harus menunggu 6 jam lebih untuk menyeberang ke Samosir

***
Menunggu itu membosankan. Bisa iya bisa juga nggak. Bener gak ?

Dan apa yang dilakukan para penumpang saat menunggu alias antri kapal di pelabuhan Ajibata menuju ke Samosir, supaya gak bosan

Ini dia yang membuat rasa bosan itu hilang :

1. Melihat kapal motor penumpang yang berangkat

Aneh memang, biarpun kami gak bisa berangkat dengan kapal ferry pukul 10.30. Ternyata asiiik loh melihat kapal ferry itu berangkat. Bisa melihat saat pintu untuk masuk kendaraan diangkat. Melihat kapal berputar menuju ke Tomok. Dan melihat kapal bergerak menjauh dari pelabuhan ferry Ajibata

Semua itu merupakan keasyikan tersendiri rupanya



2. Berfoto dan melihat kapal motor penumpang yang sedang dalam masa perawatan

Di pelabuhan ferry Ajibata, terdapat 2 buah kapal motor penumpang atau disingkat KMP. Bernama KMP Tao Toba 1 dan 2. Meski ada 2 kapal, tak setiap waktu keduanya dioperasikan. Karena tak setiap saat kapal itu penuh penumpang

Disaat tak digunakan itulah, kapal dirawat juga


Anak-anak yang asyik bermain di kapal yang tengah dipelihara
Sekelompok pria terlihat sedang mengelas bagian kapal Tao Toba 1. Terlihat juga beberapa anak kecil bermain disana. Mungkin mereka sudah terbiasa kali ya 


3. Membeli kacamata hitam

Akhirnya terjawab juga kenapa mobil di depan kami membeli kacamata hitam yang ditawarkan oleh pedagang keliling saat kami antri masuk

Sebuah keluarga yang sedang memilih kacamata 


Rupanya di saat panas terik, pantulan air Danau Toba itu sangat menyilaukan mata loh. Asli beneran. Pantas aja ya, di Pelabuhan Ajibata ini gak cuman satu orang yang menjajakan kacamata hitam

Soal model, cukup lumayan banyak kok pilihannya. Dengan harga yang dijamin gak bikin kantong bolong. Untuk kacamata anak, harganya 25 ribu saja. Sedangkan untuk kacamata orang dewasa, harganya 40 ribu saja. Soal harga ? Boleh ditawar kok

Ada yang senang dibelikan kacamata 🤣

4. Melihat anak-anak bernyanyi lagu Batak

Udah tau kan, kalau orang Batak itu terkenal dengan suaranya yang merdu itu. Gak usah deh penyanyi papan atas. Pengamen cilik di Pelabuhan Ferry Ajibata aja punya suara yang top abis loh. Kalah deh suara saya, yang cempreng kayak panci rombeng jatuh ... Hihihi

Para penyanyi cilik di Pelabuhan  Ferry Ajibata yang sedang menghibur para penumpang
Saat menunggu antrian kapal ferry, anak-anak ini akan menawarkan jasanya pada kita. Mereka datangnya sih berkelompok. Ada sekitar 2-5 anak. Dan ada beberapa kelompok disana

Mereka akan memperdengarkan lagu Batak dengan dengan bantuan tepuk tangan sebagai musiknya

Belum puas mendengarkan satu alunan lagu dari mereka ? Kita boleh kok minta tambah lagi. Tak terasa, badan pun ikut bergoyang saat mereka menyanyikan lagu Batak

Jangan lupa, kasih tip yang sesuai ya

5. Duduk santai di pinggir Danau Toba


Angin semilir sepoi-sepoi di Danau Toba, tak pelak membuat mata mengantuk. Daripada makin mengantuk, duduk di bangku kayu yang disediakan sambil memandang keindahan danau dan lalu lalang kapal motor bisa mengalihkan rasa kantuk

6. Membeli buah

Di Pelabuhan Ferry Ajibata, terlihat beberapa penjual buah. Ada juga buah potong. Dagangan mereka pun macam-macam. Seperti jeruk, mangga, pisang dan nanas



Sambil menunggu, bisa kan kita membeli jeruk. Dan dikupas di tepi danau

7. Duduk di kedai sambil jajan

Perut keroncongan ? Tak perlu khawatir. Di  sekitar Pelabuhan Ajibata terdapat beberapa kedai penjual makanan matang. Tapi perlu diperhatikan untuk umat Islam. Karena ada juga kedai yang menjual babi

Salah satu kedai dengan menu babi 
Namun tepat di dalam parkiran, ada sebuah kedai Muslim yang menjual makanan halal. Ada gorengan, mie rebus atau goreng, soto, sop dan berbagai macam minuman

Kedai yang menjual makanan halal

Sambil makan gorengan, bisa menikmati alunan lagu dari sekelompok anak kecil ini 
Menunggu sekian jam tentunya, tak pelak membuat kita ingin ke toilet kan untuk menyelesaian masalah hajat. Gak perlu khawatir. Toilet di Pelabuhan Ajibata cukup nyaman kok untuk penumpang. Airnya sangat lancar, tak ada bau pesing dan pastinya bersih. Cukup membayar 2000 rupiah saja. Atau 5000 rupiah untuk mandi

Tak terasa, waktu pun menunjukkan jam 13.30. Anak-anak pun tak terlihat surut semangatnya karena 3 jam menunggu. Kapal pun datang. Saatnya kami menyeberang ke Samosir, teman

Petualangan apa saja yang saya dapatkan di Samosir ? Tunggu cerita saya berikutnya ya

See you 😘😘😘















You May Also Like

16 komentar

  1. Kalau banyak yang bisa dilakukan begitu, menunggu 3 jam pun sepertinya gak berasa, ya, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Myr. Awalnya aku sempet kepikiran bakal bosen. Eh tenyata diluar dugaan, banyak yang bisa dinikmati loh

      Hapus
  2. Aku kok dadi pengen piknik jauh mbaca ini mba.. lha aku terakhir naik fery ya jaman ke Bali.. dan itu sudah lama sekali..ha..ha

    Memang fery nya sedikit tho mba, kok mesti nunggunya lama. Dan aku jadi ingat, saat ke Solo..gayane milih numpak prameks, biar ga kena macet. Ternyata pas balik solo-jogja, mesti nunggu lamaaa..karena masuk stasiun jam 1.. mau beli tiket yang jam 2 atau jam 3 udah habis. Adanya jam 6.

    Nunggu 5 jam di stasiun.

    Bawa mobil sendiri, semacet macetnya paling 3 jam juga udah nyampe..😀😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... Lah 5 jam di stasiun opo kemana, Mbak Sulis ?

      Hapus
  3. Mbak Dila.. Ada saja idenya sambil nunggu kapal nyebrang ya...kwkwk salut.. Menunggu itu membosankan tapi kalau dinikmati bakal menyenangkan..
    Btw, dua kali nyebrang di sana sambil bawa bayi, enggak fokus ke kapal dan lainnya, jadi lupa-lupa ingat saya. .Haha

    Baca ini jadi mupeng pengin ke sana lagi sambil ajakin anak-anak...Semoga
    Ditunggu kelanjutan ceritanya 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo anak-anak masih bayi mungkin aku juga bakal fokus ke dia aja, Mbak Dian. Gak kayak kemarin yang bisa liat sekeliling 😄

      Hapus
  4. Wah, seru menyimak perjalanannya Mba, jadi kepengen travelling naik kapal juga. Seru deh pakai kacamata item-item gitu. :D

    Btw itu selisih satu mobil aja padahal bisa ikut penyeberangan jam 10.30 ya, hihi... untung banyak kegiatan seru yg gak bikin bosan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjalanan ke Samosir kemarin ngerubah saya, Mbak. Jadi pede pakai kacamata item ... Hihihi

      Hapus
  5. jd inget mau pulang kampung, naik kapal laut.
    Tapi kalo antri ga bisa ngapa2in
    nggu aja di dalem bus.. bengong hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, kalo di dalam bis mah cuman bisa diem aja yak ... Hahaha

      Hapus
  6. Pengen deh maen ke sono. Kapan yah?

    Cuti mana cutiii...

    BalasHapus
  7. Ayo cuti, Mas. Liburan ke Sumut, apalagi Danau Toba. Asiiiiiik banget loh *ngomporin orang biar pengen kesini* 😄😄

    BalasHapus
  8. pengen lah ke samosir.
    blm pernah walau lumayan dekat dari tempat tinggal.

    BalasHapus
  9. Kalau saya tim nunggu sambil foto2 bunda dila. Kalau bapaknya tim menghayati pemandangan. Nah, kalau anak sy tim laper, mau makan aja kalau jalan.. 😂

    BalasHapus
  10. Kangen bangettttt ama samosir. Aku baru sekali kesana. Bareng study tour smu al azhar medan. Cm penginapanku agak horor, hahahahaha.. Selebihnya kalo mudik ke sibolga cm singgah bentar di parapat, sekedar liat danau toba trus lanjut jalan. Ga akan prnh bosan kalo kesana sih mba

    BalasHapus
  11. duh, udah kebayang bu gimana serunya duduk santai di pinggir Danau Toba sambil makan buah.
    menunggunya jadi engga berasa deh, gak bosen :)

    makasih sharingnya Bu

    BalasHapus