Hari - Hari Istimewa di Medan

by - January 04, 2018


Hai, teman-teman. Apa kabar kalian semua ? Udah bisa move on belum dari liburan panjang akhir panjang akhir tahun ini kan

Postingan pertama di tahun 2018 ini, saya ingin berbagi cerita tentang hari -hari istimewa di Medan

Dijuluki sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, ibukota propinsi Sumatera Utara ini mempunyai banyak keistimewaan. Mulai dari kulinernya yang terkenal enak di seluruh negeri ini, budayanya dan lain - lain

Yang dulu pernah saya tulis di postingan ini ( diklik dan mampir ya, teman ) 😊

***

Medan, menurut Wikipedia mempunyai komposisi pemeluk agama :
- Islam 59,68 %
- Kristen Protestan 21,16 %
- Budha 9,9 %
- Katolik 7,1 %
- Hindu 2,15 %
dan Kong Hu Cu 0,01 %

Suku Melayu menjadi penghuni awal kota Medan. Masih menurut Wikipedia, kota yang didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi ini juga didominasi oleh berbagai suku dan etnis. Seperti Jawa, Batak, Tionghoa, Mandailing dan India. Serta beberapa suku lain seperti Minangkabau, Aceh, Angkola dan Nias

Dengan keberagamannya ini tak heran membuat Medan menjadi kota yang spesial . Dan keunikan Medan yang akan saya ceritakan kali ini adalah tentang perayaan hari - hari istimewanya

- Idul Fitri dan Idul Adha -

Umat muslim adalah mayoritas penduduk di kota Medan. Perayaan Idul Fitri dan Idul Adha di kota Medan memiliki keistimewaan

Suasana sholat Ied di Masjid Raya Al Mashun ( sumber gambar :Tribunnews Medan )
Layaknya di tempat lain. Di Medan, saat jelang Idul Fitri dan Idul Adha banyak bermunculan  penjual ketupat dadakan

Ada 2 jenis ketupat yang dijual di Medan ini. Ketupat berukuran besar dan kecil. Ketupat besar nantinya akan diisi beras dan ukuran kecil diisi dengan beras ketan atau pulut dalam Bahasa Melayu

Selain ketupat asli, menjelang Idul Fitri di Medan akan banyak bermunculan penjual ketupat hias untuk dijadikan hiasan rumah saat Lebaran. Ketupat hias ini terbuat dari styrofoam dengan berbagai ukuran. Mulai dari yang kecil hingga besar

Ketupat hias berbagai ukuran yang dijual mulai harga 5 ribu hingga 50 riburupiah ( sumber gambar : Sindonews )
Kuliner seperti rendang, lemang, lontong sayur lengkap dengan tauconya dan opor ayam adalah pilihan sebagian besar dari masyarakat Medan

Pelaksanaan Sholat Ied di Medan dimulai sekitar jam 7 pagi

Masjid Raya Al Mashun, salah satu peninggalan Kesultanan Deli yang pembangunannya didanai oleh Sultan Deli dan konon juga dibantu oleh saudagar keturunan Tionghoa bernama Tjong A Fie dan saudaranya Tjong Yong Hian, Masjid Agung Sumatera Utara dan Lapangan Merdeka adalah tempat yang paling ramai saat pelaksanaan sholat Ied di Medan

Suasana sholat Ied di Lapangan Merdeka Medan ( sumber gambar : Karakter News )
Para pejabat daerah Sumatera Utara dan Medan, biasanya melaksanakan sholat Ied di Lapangan Merdeka Medan

Ada lagi nih yang membuat suasana Lebaran Idul Fitri di Medan terasa berbeda dari kebanyakan tempat. Karena penduduk Medan yang beragam agama ini, di hari pertama Idul Fitri tak sulit menemukan pedagang sayuran dan ikan yang berjualan di pasar tradisional. Mereka yang berjualan biasanya pedagang non muslim

Sedangkan saat Idul Adha di Medan, setelah pembagian daging dari masjid. Masyarakat Medan biasanya akan mengolah daging kurban menjadi rendang. Tak heran jika jarang sekali orang Medan yang membakar sate di hari Idul Adha

- Natal -

Desember adalah bulan istimewa bagi umat Kristiani. Tak ingin ketinggalan, umat Kristiani di Medan pun ingin menyemarakan hari Natal yang datang di bulan Desember itu

Berbagai persiapan dilakukan oleh mereka

Penjualan pohon Natal, lampu dan hiasan untuk menyemarakkan Natal di Medan mulai terlihat sekitar bulan November. Dari toko besar hingga pasar tradisional, akan banyak pedagang musiman yang menjual pernak - pernik natal

Salah satu penjual aksesoris Natal di Medan ( sumber gambar : Tribunnews Medan )
Di Medan, perayaan natal bersama dilakukan mulai awal Desember. Dari gereja hingga balai pertemuan lingkungan. Mudik juga dilakukan saat Natal dan akan makin bertambah ramai menjelang tahun baru

Gereja di Medan selain menggunakan Bahasa Indonesia, banyak juga yang menggunakan Bahasa Batak atau Bahasa Karo sebagai bahasa pengantar

Dari sekian banyak gereja di Medan, ada satu gereja yang cukup istimewa. Namanya Gereja Grha Maria Annai Velangkani atau lebih dikenal dengan Gereja Velangkanni

Gereja Maria Annai Melangkahi Medan. Annai artinya bunda. Velangkanni atau Vailankanni adalah nama desa di India ( sumber gambar : Lihat.co.id )
Apa yang membuat gereja ini lebih istimewa dibanding yang lain ? Gereja Velangkanni mempunyai bentuk yang nyaris mirip dengan kuil agama Hindu. Ternyata gereja ini dibangun oleh seorang pastur dari India bernama James Bharataputra. Setelah selesai pengerjaannya di tahun 2005, barulah gereja ini digunakan sebagai tempat ibadah untuk umat Kristiani keturunan India. Meski tak menutup untuk etnis lain

- Imlek dan Cheng Beng -

Masyarakat Tionghoa, adalah salah satu etnis yang memegang peran penting di bidang perdagangan di Medan ini. Saat perayaan Imlek, tak heran banyak toko yang tutup. Mall dan supermarket tetap buka

Suasana Imlek di Vihara Maha Maitreya Medan ( sumber gambar : TomTampubolon.Wordpress )
Saat Imlek, masyarakat Tionghoa berdoa di vihara-vihara yang tersebar di kota Medan ini. Di dekat Vihara Setiabudi yang merupakan terbesar di tengah kota Medan, terlihat banyak pedagang hio dadakan di pinggir jalan saat Imlek

Selain Vihara Setiabudi, Vihara Maha Maitreya yang terletak di kawasan komplek Cemara Asri juga menjadi tempat paling ramai dikunjungi oleh umat Budha untuk bersembahyang saat Imlek

Makan bersama saat Imlek juga bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa. Di Medan, saling berkunjung antar keluarga juga merupakan tradisi masyarakat Tionghoa saat Imlek. Tak lupa baju berwarna merah adalah pilihan favoritnya

Cheng Beng, mungkin masih banyak yang belum pernah mendengar tradisi ini. Menurut Wikipedia, Cheng Beng adalah tradisi tahunan masyarakat Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah makam leluhur yang biasanya jatuh di bulan April. Saat Cheng Beng, masyarakat Tionghoa akan mendatangi makam leluhur dan bersembahyang

Komplek pemakaman masyarakat Tionghoa akan tampak ramai saat Cheng Beng, bahkan ada yang sudah berada di makam sebelum matahari bersinar

Berbagai macam makanan seperti buah dan perlengkapan sembahyang dibawa saat berziarah

Suasana Cheng Beng di makam leluhur ( sumber gambar : Smart FM Medan )
Cheng Beng juga menjadi salah satu saat mudik bagi masyarakat Tionghoa. Jangan terkejut, jika harga tiket pesawat dari Jakarta ke Medan akan melambung saat Cheng Beng. Dan pesawat biasanya penuh. Hotel pun banyak menawarkan promo untuk para pemudik ini

- Deevapali dan Holly -

Masyarakat India, adalah salah satu etnis yang menghuni ibukota Sumatera Utara ini. Kedatangan mereka dari tanah asalnya, dimulai dari masa pendudukan Belanda

Deevapali atau Dipawali di Kuil Shri Mariaman Medan ( sumber gambar : Tribunnews Medan )

Deevapali di Kuil Shri Mariaman Medan ( sumber gambar : The Jakarta Post )
Deevapali adalah perayaan cahaya bagi masyarakat Hindu India. Deeva artinya cahaya dan wali berarti jalan, atau jalan menuju cahaya. Cahaya atau pelita dalam perayaan Deevapali, melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan

Perayaan Deevapali diadakan sekitar bulan Oktober - November. Di Medan, perayaan Deevapali atau Dipawali biasa dirayakan di Kuil Shri Mariaman yang terletak di pusat kota Medan

Selain Deevapali, masyarakat India di Medan juga merayakan Holly

Perayaan Happy Holly yang ditandai dengan perang serbuk warna - warni di sekolah Khalsa Medan ( sumber gambar : Harian Analisa )
Happy Holly atau perang serbuk warna - warni di India Utara dirayakan dalam rangka ungkapan rasa syukur menyambut pergantian musim. Masyarakat India di Medan pun tak ingin ketinggalan merayakan Holly. Happy Holly biasanya diselenggarakan setiap bulan Maret

Selain perang serbuk warna -warni, masyarakat India di Medan juga menyajikan kuliner dan budaya khas India untuk menyambut perayaan Holly. Bahkan salah satu sekolah India di Medan, mengadakan perayaan Holly yang terbuka untuk masyarakat umum

Perayaan Deevepali dan Holly di Medan oleh etnis India adalah salah satu yang paling meriah di Indonesia

- Tahun Baru -

Momen pergantian tahun di Medan, dianggap sebagai salah satu momen penting untuk berkumpul dengan keluarga

Di Medan, mudik tak hanya saat Lebaran Idul Fitri saja. Saat tahun baru, banyak masyarakat Medan dari berbagai agama yang mudik kembali ke kampung halamannya untuk berkumpul dengan keluarga tercinta

Kembang api saat pergantian tahun di Lapangan Merdeka Medan ( sumber gambar : Detik )
Bus antar kota dan kereta api, dipastikan akan penuh penumpang yang akan kembali ke kampung halaman. Bandara pun dipenuhi orang yang ingin berkumpul dengan keluarga

Salah satu penjual ketupat saat tahun baru di daerah Marelan Medan ( sumber gambar : Harian 88 )
Jika kebanyakan di kota lain, ketupat biasanya hanya muncul menjelang Lebaran saja. Sehari menjelang tahun baru, di Medan pedagang ketupat dadakan akan banyak bermunculan di pasar tradisional. Selain berburu ketupat, masyarakat Medan juga membeli ikan untuk dibakar bersama keluarga saat tahun baru

Tanggal 1 Januari, pasar menjadi lebih sepi. Banyak toko tutup dan hanya segelintir pedagang sayur atau ikan yang berjualan

Berastagi dan Danau Toba di Parapat atau Samosir adalah kawasan wisata favorit masyarakat Medan untuk melewati momen tahun baru

***

Yuk datang ke Medan dan rasakan keberagamannya yang indah ini

Sekian cerita saya dari Medan kali ini, jumpa lagi di cerita berikutnya ya. Salam 
...










You May Also Like

32 comments

  1. Medan seperti Kota Pancasila za... Beragam budaya dan agama ada disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Medan termasuk kota yang sangat beragam

      Delete
  2. Semakin heterogen masyarakatnya semakin erat kekeluargaannya ya...

    ReplyDelete
  3. Wah asyik euy ada perayaan diwali juga

    ReplyDelete
  4. wow , perayaan yang begitu indah ya , semua agam bebas merayakan dengan meriah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah Medan, Mbak. Dengan keberagaman yang malah menyatukan

      Delete
  5. Indonesia terasa terwakilkan oleh medan
    Dg ragam perbedaan tp satu dlm damai
    Tampak terlihat harmonisasi sempurna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Melihat Medan ya melihat keberagaman yang harmonis

      Delete
  6. Cheng Ben..Deevapali..Holly...Jadi kangen Medan!
    Benar-benar terasa ragam budayanya di sini, nggak perlu jauh-jauh, saat di keramaian..tengok kiri kanan depan belakang saja sudah beraneka warna kulit nampak mata atau terdengar bahasa yang berbeda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Medan memang kota yang sangat multikultur, Mbak Dian. Dan ngangenin 😄

      Delete
  7. Saya pikir ketupat hanya ada di Jawa, ternyata di Medan pun jadi tradisi ya, Mbak. Malah tahun baru pun ada :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya udah melewatkan 3 tahun baru di Medan, baru yang terakhir tahu kalau ada ketupat pas mau tahun baru. Karena kebetulan ke pasar pas tanggal itu, Mbak Myra

      Delete
  8. Tak pikir deepavali hanya ada di india atau di kmpung durian runtuh mba..

    Ternyata di medan pun ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masak hanya kampung durian runtuh aja yang ada. Medan gak mau ketinggalan juga dong

      Delete
  9. Saya lebih suka dengan kulinernya, rendang, lemang, lontong sayur dengan tauco dan opor ayam. Mantap rasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuliner yang itu memang top markotop, Mas. Apalagi lontong sayur Medan itu udah paling enak deh

      Delete
  10. Jadi tahu keberagaman di Medan. Sebuah contoh toleransi yang bagus buat bangsa kita. Semua perayaan meriah ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, Mbak Nur. Masyarakat saat ini butuh contoh riil kerukunan beragama. Salah satu yang bisa dilihat ya di Medan ini

      Delete
  11. Ketika saya kecil, Lebaran itu ya hari raya bersama sesama kaum kristen. Berbagi kue. Begitu pula kalau natal, saya sering sumringah makan kue nan enak. Medan kota yang menyenangkan. Ah kangen pulang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah orang Medan ya. Salam kenal dari saya

      Delete
  12. Aduuuh gak jadi lagi ke Medan. Kemarin gak dapat ijin suami karena musim hujan hiiks. Keburu Mbak Dila pindah lagi yaaa :D kangen lontong sayur hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo gak jodoh ketemu di Medan, kita ketemu di kota lain ya yuk

      Delete
  13. 4 keyakinannya lengkap ya di sana. Menu makanannya nggak jauh beda juga ya Mba dg kuliner Minang. Ceng Beng-an saya pernah dengar dari murid, tentang sembahyang atau ziarah abu. Deevapali pun ada juga ya, jadi ingat moment2 kayak Sri Mariamman. Ini kan meriah juga perayaannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo ke Medan kalau ada rejeki, Mbak Nita. Pasti ntar seneng deh. Apalagi disini juga surga kuliner loh ... ngiming-ngimingi

      Delete
  14. pas ke Medan 2 thn lalu gak sempet ke Gereja Maria Annai Melangkahi Medan. Selain tempatnya jauh dr mana2, bawa ibu dan tante yg sdh sepuh...mereka pasti males banget ke sini... padahal baguuuusss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang agak minggir sih tempatnya, Mbak Ria. Lumayan apalagi sekarang Medan macet. Kasian ibu sama tantenya

      Delete
  15. Terasa banget toleransi beragamanya, pasti seru tinggal di sana bisa bertemu dengan berbagai suku bangsa.

    ReplyDelete
  16. Oooohh di Medan itu ternyata penduduk beragama Islam ada sekita 50 persenan ya. Pas sholat Idul Fitri di masjid kelihatan mengharukan. Oh ya ada dua macam ketupat ya, yang besar isinya beras biasa dan yang kecil beras ketan. Bisa juga kreasi ketupa ini, makin sedap ditambahin rendang hhmm... :D

    ReplyDelete
  17. Masya Allah, seru banget ngebayanginnya. Sangat beragam sehingga bisa melihat anek tradisi yang ada. Sukak saya :)

    ReplyDelete