Menengok Rumah Kuno Peninggalan Belanda di Bandar Klippa, Batang Kuis

by - November 20, 2017


Sabtu kemarin, saya meminta suami untuk mengantar ke sebuah rumah kuno peninggalan Belanda. Berawal dari rasa penasaran saya, setelah melihat foto rumah kuno itu di IG @taukotembung sehari sebelumnya ( padahal postingannya udah di awal November ini)

Semenjak tinggal di Medan 3 tahun lalu, kesukaan saya terhadap hal - hal berbau vintage makin menjadi

Sebuah foto rumah panggung berarsitektur Melayu campur Eropa, milik PTPN 2 membius saya sejak pandangan pertama

***

Setelah menjemput si kecil di sekolah. Kami bertiga meluncur ke lokasi rumah kuno peninggalan Belanda itu

Ternyata lokasinya cukup mudah ditemukan, berbekal GPS kami pun sampai di rumah kuno yang tepat berada di Jalan Tembakau, Batang Kuis - Kabupaten Deli Serdang itu

Si kecil lah yang pertama kali melihat rumah kuno itu,  " Mi,  itu rumahnya ". Suami awalnya sempat ragu saat ingin turun. " Udahlah, gak usah. Kamu ambil gambar dari luar aja " katanya

Kami pun sudah sempat putar balik di dekat perlintasan kereta api. Hingga akhirnya, saya dan si kecil berhasil merayu suami. " Tuh, ada mobil Pajero nya kok di bawah rumah. Berarti ada orangnya kan " kata saya.  Si kecil pun semangat sekali menjawab " Iya, Ma. Ada tuh "

Sempat berhenti lama di depan rumah itu, saya meminta suami memarkirkan kendaraan di Kantor PTPN 2 Kebun Bandar Klippa yang terletak tepat di seberang rumah kuno itu

Kantor Kebun Bandar Klippa, tempat kami parkir kendaraan
Dua orang penjaga tampak di depan kantor, saya pun bertanya apakah boleh saya melihat rumah kuno itu dari dekat. " Sebentar ya,  saya tanya ke kantor dulu " kata seorang penjaga

Tak lama kemudian dari pintu kantor, tampak seorang pegawai keluar bersama bapak penjaga tadi.  " Boleh, mbak " kata penjaga itu

" Makasih,  sudah diijinkan masuk Pak " kata saya ke pegawai kantor tersebut yang akhirnya saya ketahui beliau adalah sekretaris manajer Kantor Kebun Bandar Klippa PTPN 2

" Tapi jangan masuk ke dalam rumah ya " pesan beliau. " Iya,  Pak " jawab saya

Pak Gantong, demikian nama penjaga tadi. Alhamdulillah Pak Gantong bersedia menemani kami masuk melihat rumah kuno itu

Pak Gantong, lelaki keturunan Jawa yang sudah bekerja selama 26 tahun sebagai keamanan di PTPN 2. Beliau adalah generasi ketiga, saat Kakeknya dibawa oleh Belanda dari Jawa ke Sumatera sebagai pekerja perkebunan . Pak Gantong ramah sekali dan komunikatif sehingga membuat kami nyaman selama disana 

Rumah kuno yang akan saya lihat itu hingga saat ini masih menjadi rumah dinas yang ditempati oleh Manajer Kebun Bandar Klippa PTPN 2

Saya juga pernah loh berkunjung ke Puri Tri Adiguna Tanjung Morawa milik PTPN 2, tempatnya seperti apa. Yuk klik disini

***

Kebun Bandar Klippa PTPN 2, dahulunya adalah salah satu kebun penghasil tembakau Deli yang populer di mata dunia itu. Namun setelah era reformasi, banyak lahan perkebunan yang diserobot oleh masyarakat. Tampak dari banyak sekali bangunan baru yang dibangun di atas area milik PTPN 2 itu. Seperti rumah atau juga ruko

Kebun yang tersisa saat ini, sudah tidak lagi ditanami tembakau Deli. Dan diganti oleh tanaman kelapa sawit

***

Tanaman Pucuk Merah tersusun rapi di halaman yang luas itu, terlihat menyambut siapa pun yang datang

Pucuk merah berjajar rapi 
Sebuah rumah panggung dengan desain  Melayu dan kolonial Belanda itu, berada di tengah halaman. Tahun berapa dibangunnya ? Entah, tidak ada data yang pasti. Kemungkinan di awal tahun 1900 an

Rumah kuno bercat putih ini, tampak menarik buat saya. Tampak tangga di bagian samping rumah menuju balkon. Kaca dan jendela besar khas kolonial Belanda juga terlihat di berbagai sudut





Dari bagian samping lainnya, terlihat sebuah bangunan mirip garasi yang dipisah oleh sekat. Menurut Pak Gantong, itu adalah garasi dan tempat mengambil minyak untuk bahan bakar mobil dinas

Selasar lorong penghubung rumah utama dengan garasi  

Garasi 
Tampak selasar lorong mirip rumah sakit menghubungkan rumah utama dengan garasi itu

Kami pun berpindah ke belakang rumah utama. Masih tampak jendela dan sebuah pintu menghubungkan dengan bagian bawah panggung. Tangga juga terlihat di bagian belakang rumah

Bagian belakang rumah 

Sebuah balkon di samping rumah menarik hati saya. " Foto disini, Mb. Cantik loh " kata Pak Gantong

Tetapi saya lebih tertarik untuk naik ke atas balkon itu dulu. Berdua dengan si Kecil, kami menaiki tangga yang terbuat dari ubin warna coklat dan kuning itu satu persatu

Bukan Noni Belanda ... Piss 

Teras cantik 

Saya suka sekali di teras samping ini, pemandangannya keren. Khayalan saya melayang membayangkan bagaimana saat Belanda masih disitu 

Wow, pemandangannya cantik dari sini. Dari atas balkon, saya membayangkan mungkin dahulu tanah lapang  itu ramai dengan orang Belanda yang bermain bersama anaknya. Kereta kuda mereka berhenti disana. Sebuah pasar malam  pernah diadakan disana. Atau di lapangan itu mungkin juga pernah menjadi background foto orang Belanda bersama keluarga mereka

Saya pun turun bersama si Kecil menyusul suami dan Pak Gantong yang sedang berbicara di bawah rumah panggung

Dua buah tangga terlihat di bagian kanan dan kiri rumah. Pilar-pilar berwarna putih ala rumah panggung, tersusun di bagian bawah rumah

Pilar khas rumah panggung 

Di bawah sini terasa adem

Tangga menuju rumah utama 

" Dulu disini banyak pembantunya, itu kamar-kamarnya" lanjut Pak Gantong sambil menunjukkan beberapa ruangan kecil di bawah panggung

Kamar pembantu jaman dulu 
" Diatas ada apa, Pak? " tanya saya sambil menunjuk ke atas tangga. " Naik aja, gak papa kok " kata Pak Gantong.  Saya pun kemudian naik ke atas sendiri. Ternyata di samping tangga terdapat sebuah teras yang memiliki banyak jendela. Sebuah pintu terlihat yang menghubungkan ke dalam bagian rumah

Teras atas 

Saya membayangkan di jaman dulu, orang Belanda minum kopi di teras atas 
Berapa jumlah kamar di atas ? Pak Gantong pun tidak bisa menjawab dengan pasti. Yang jelas jumlahnya tidak sedikit. Saya pun tidak diperkenankan masuk ke dalam rumah

Puas berfoto di atas, saya pun turun. Dan kembali ke halaman depan

***
Saat hendak keluar, sebuah alat berbahan stainless steel menarik perhatian saya. " Apa itu, Pak Gantong? " tanya saya. " Alat ukur curah hujan, Mbak " jawab Pak Gantong

Si kecil yang penasaran dengan alat pengukur curah hujan 
Menurut Pak Gantong, alat pengukur curah hujan ini sampai sekarang masih digunakan. Petugas penjaga disana wajib melapor setiap kali hujan kepada BMKG. Dan alat ini sebagai tolak ukur, untuk melihat kebun kelapa sawit terkena banjir atau tidak

Selesai melihat alat pengukur curah hujan itu, kami pun memutuskan kembali ke parkiran dan pulang

Terima kasih, Pak Gantong sudah menemani kami melihat rumah indah itu.
***

Saya pribadi, suka sekali dengan rumah itu. Sayang kurang dirawat. Suami yang awalnya tidak mau masuk, ternyata juga menikmati petualangan kecil kami kemarin. Si Kecil ? Antusias sekali disana. Bertanya ini itu. Sebuah proses belajar yang menyenangkan untuk si Kecil

Boleh dong saya bermimpi, seandainya rumah itu lebih dirawat dan halaman luas di depannya dipercantik disertai dengan keceriaan anak - anak bermain di luar.  Lampu warna warni menghiasi rumah di malam hari. Wow, pasti menyenangkan sekali

Jalan ini tahun depan, akan menjadi jalan tol  😥
Tapi yang menyedihkan, saya mendengar dari Pak Gantong bahwa sebagian halaman dari rumah kuno itu akan menghilang tahun depan. Untuk dibuat jalan tol.  Ah,  sedihnya saya mendengar itu. Kenapa pembangunan seringkali menghapus kenangan masa lalu ...

Semoga kelak, kelak rumah cantik itu masih bisa dinikmati oleh generasi mendatang

Buat teman-teman yang ingin berkunjung kesana. Silakan aja. Tapi jangan lupa ijin ya. Soal angker atau gak ? Saya siy percaya, selama niat kita baik. In sya'a Allah akan dijaga oleh Sang Pemilik Kehidupan  

Sampai jumpa lagi di petualangan saya berikutnya. Salam 😊😊












You May Also Like

18 comments

  1. Kalau aku sih bismillah aja mba. Rumahnya memang gedhe-gedhe dan klasik. Bikin serem karena nggak begitu terawat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mb Nur. Kalau rumah ini lebih terawat tentu bakal cantik lagi

      Delete
  2. Kayaknya seru ne, jalan-jalan ke rumah kuno peninggalan Belanda ini, nanti kalau aku ke Medan lagi, singgah ah.
    Oia, ini ada link ke blog ku, supaya mbak bisa Jajalan di Danau Toba
    http://www.yellsaints.com/2017/11/terbang-bersama-garuda-ini-6-tempat.html?spref=fb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo singgah klo ke Medan lagi, tempatnya bagus

      Delete
  3. bangunannya masih bagus ya..

    itu dijadikan objek wisata (ada biaya masuknya) atau kita bs dtg kesana suka2?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan objek wisata, mb. Tapi kita boleh masuk, asal ijin dulu

      Delete
  4. saya tinggal di daerah tembung mbak, nggak jauh dari BANDAR KLIPPA, BATANG KUIS kan ya. Tapi belum pernah ke bangunan kuno itu.. Menarik mbak gambar-gambarnya.. insya allah kapan ada kesempatan boleh juga main ke sana. makasih mbak infonya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, mbak dari Tembung ya. Dekatlah sama rumah itu

      Delete
  5. Aku suka banget ke rumah tua gini.
    Duh Mbak harus ke Lasem, bakal puas lihat rumah-rumah tua. Aku sampai susah diajak pulang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak juga ya rumah vintage di Lasem. Aduuuh mupeng klo liat rumah vintage, mb

      Delete
  6. Kalau saya kok agak takut lihatnya yaa..hihi...emang dasar penakut aja sih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo saya yang penting ditemenin, sendiri pasti takut... Hihihi

      Delete
  7. Terbayang jaman rumah ini masih difungsikan..Ada acara digelar di halaman..Ramai orang lalu-lalang. Sekarang hanya tinggal kenangan dan tak lama lagi akan digusur kemajuan jaman..hiks:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengennya kayak di luar negeri, Mb. Kemajuan jaman tidak menggeser peninggalan sejarah

      Delete
  8. Rumah kuno gini bersejarah ya, tapi sekarang lebih banyak dipakai shoot film dan sejenisnya. Kebayang dulu mah super keren banget punya rumah gede ini udah kayak abis lah. Sekarang cuma cerita aja paling2 mistis hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga aja kelak, bangunan bersejarah kayak gini gak tergerus jaman Mbak. Biar anak cucu kita masih bisa melihatnya

      Delete
  9. Sedih tau proyek jalan tol bakal melintasi halaman rumah. :(

    ReplyDelete