Papa, aku ikhlas Papa pergi (Ketika Ikhlas Harus Diucapkan dan Bukan Sekadar Kata)

by - Oktober 24, 2017

Ikhlas

Apa itu ikhlas  ?

Sebuah kisah di hidupku, mengharuskanku mengucapkan kata ikhlas

Ikhlas yang sesungguhnya

" Dila, kamu bilang ke papamu kalau kamu ikhlas Papa pergi " bisik ibu guru agama saya
" Kenapa, bu? " jawab saya
" Papamu nungguin kamu " jawab beliau

Pagi itu aku harus membisikkan ke telinga lelaki cinta pertamaku bahwa aku ikhlas melepas kepergiannya

Jangan tanyakan bagaimana perasaanku saat itu

Lelaki yang kupanggil Papa itu tergolek lemah di ruang ICU, dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya. Rautnya seperti orang yang sedang tidur saja

Nilai batang otak nol
Jantung nol
Gagal nafas

Papaku koma

Hidupnya saat itu bergantung pada ventilator yang terpasang di tubuhnya

Tak sanggup rasanya melihat Papa tergolek lemah di ruang ICU. Rasanya dunia berputar ketika itu

Ingatan dua hari sebelumnya pun muncul ...

Minggu pagi aku masih melihatnya melambaikan tangannya kepadaku dan berkata " Lebaran nanti kita kumpul lagi ya "

Rupanya lambaian tangan itu adalah lambaian tangan terakhirnya kepadaku, saat melepasku kembali ke kota tempat tinggalku yang berjarak 7 jam dari rumah orangtuaku

Dan Selasa pagi, lelaki itu sudah kulihat berada di ruang ICU. Setelah serangan stroke kedua dan serangan jantung di hari Senin pagi. Tepat setelah lelaki itu kembali dari sholat Dhuha di kantornya



" Papa, bangun pa " aku masih tak percaya dengan keadaan itu
Kubelai rambutnya, kucium pipinya
Ah ... kenapa semua ini terjadi

Sambil menatap wajahnya, aku berkata bahwa aku sudah ada disampingnya. Aku sudah datang

Lalu aku teringat pesan guruku itu

" Papa, aku ikhlas Papa pergi. Maafin aku, pa " kucoba membisikkan kalimat itu ke telinga Papa

Tapi aku tidak ikhlas ...

Aku masih terus menangis tersedu. Hati ini rasanya tak mampu untuk melepas kepergiannya. Aku tidak mau Papa pergi

Tidak kuat, aku pun keluar dari ruang ICU. Berusaha menenangkan diri

Beruntung banyak saudara dan kawan dari Mama Papa yang menemani kami

Berada di situasi itu sangat membuat saya tidak nyaman. Dan terus bertanya kenapa semua itu terjadi

" Mama, kenapa Papa begitu. Kemarin Minggu kan baik - baik aja ? " tanyaku kepada Mama sambil menangis
" Kamu yang ikhlas, mbak. Dokter Maria bilang Papa udah nggak ada harapan hidup " jawab Mama
" Dioperasi lah, Ma" jawab saya setengah memaksa
" Nggak bisa, mbak. Nggak ada gunanya. Hidup Papa itu sekarang bergantung sama alat itu " kata Mama

Dokter Maria adalah dokter yang merawat Papa sejak stroke pertama 5 tahun sebelumnya

***

Entah berapa kali di Selasa pagi itu aku keluar masuk ruang ICU. Memakai pakaian steril dan melepaskannya lagi saat keluar

Setiap kali masuk, yang ada aku hanya bisa menangis dan memeluk Papa. Sambil berbisik tentang keinginannya untuk berjumpa saat Lebaran depan. Tentang masa yang pernah kami lewati

Aku harus ikhlas. Aku tidak mau melihat Papaku menderita begitu

" Papa, aku ikhlas Papa pergi. Maafin aku, Pa " kucoba membisikkan kata itu sekali lagi

Tapi aku masih tidak ikhlas. Air mata masih mengalir di pipiku

Aaah, kenapa ini sulit sekali

Ketika berada di situasi itu, semua teori tentang ikhlas hilang dari kepalaku

***

" Bu, maaf. Kata dokter Maria, ventilatornya harus dilepas " kata seorang perawat di ruang ICU
" Ya udah, dilepas aja Mbak " jawab Mama
" Tapi maaf, Bu. Pihak keluarga yang harus melepaskannya " kata perawat itu

Dalam situasi seperti itu, kami dipaksa melepaskan alat penyambung kehidupan Papa. Kutahu semakin lama memakai alat itu, akan menyiksa Papa. Sementara aku masih ingin Papa ada di sampingku

Aku tak sanggup menuliskan bagaimana perasaanku kala itu

Mendengar itu, kucoba sekali lagi untuk melepaskan Papa. Dengan langkah pelan kucoba mendekati tempat tidurnya

" Papa, aku ikhlas Papa pergi. Ikhlas. Maafin aku, Pa. Aku punya banyak kesalahan sama Papa. Kalau Papa mau pergi sekarang, aku ikhlas. Aku sayang sama Papa "

Dengan lancar aku berbisik sekali lagi ke telinga Papa. Tanpa ada rasa yang mengganjal, tanpa ada kesedihan. Dan tanpa air mata

Aku benar-benar menikmati waktu berdua dengan Papa kala itu. Kubelai dan kucium wajahnya

Entah kekuatan apa yang mendorongku

Aku merasa benar-benar ikhlas ... Lepas

Aku rela Papa pergi

***

" Ma, aku ke kantin dulu. Belum makan dari pagi " kataku ke Mama
" Iya, kamu makan dulu. Lagian kasian Kakak " jawab Mama sambil melihat anak pertamaku yang masih berumur setahun kala itu 

Bertiga dengan tanteku, aku makan pagi yang terlambat. Jam menunjukkan pukul 11 lebih. Perjalanan dengan travel semalam dari rumahku, membuatku lapar saat itu

Selesai makan, aku kembali ke ruangan ICU. Rupanya Papa sudah dipindahkan ke ruang perawatan

Adikku rupanya yang melepaskan ventilator yang terpasang. Setelah sebelumnya menanda tangani surat persetujuan dahulu

Adikku menguatkan dirinya untuk melepas alat penyambung hidup Papa

Aku tidak sanggup membayangkan jika aku yang harus melepaskan alat itu



Berada di ruang perawatan, membuat Papa bisa dilihat langsung oleh banyak kerabat yang ingin melihatnya. Tanpa perlu bergantian seperti di ruang ICU

Ayat Al Quran pun terlantun

Papa terlihat damai dalam tidurnya

" Bapak sudah pergi, bu " kata dokter jaga saat itu

Ternyata Papa sudah dipanggil Allah. Hanya berselang 1 jam dari keluar ruang ICU

Innalillahi wa inna ilayhi roji'un

Mendengar itu, tangispun kembali pecah. Tapi kami harus ikhlas bahwa Papa telah pergi ...

***

Lalu apa ikhlas itu ?

Lepas
Rela
Ridho

Mungkin itulah ikhlas

Aku tidak punya kalimat spesifik untuk menjelaskannya

Tapi aku pernah merasakan bagaimana ikhlas yang sesungguhnya

Dan masih terus belajar untuk ikhlas  ...

You May Also Like

13 komentar

  1. Aku prnh ngalamin ini.. :( .. Sakit, sedih, dan memang beraaaat banget ya mba. Tp mungkin yg bikin aku bisa bener2 ikhlas waktu itu, krn aku tau Allah lbh sayang, dan sebenernya papa mertua ga akan merasakan sakit lg. :( . Walo cm mertua, tp beliau udh kyk papaku sendiri baiknya. Itu yg bikin kita semua berat banget pas melepas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun sampai sekarang mikir, kok bisa perasaanku bener2 lepas . Padahal sebelumnya gak bisa

      Dan emang kalau ingat bahwa Allah lebih sayang sama mereka, itu yang mungkin menguatkan kita Mb Fanny

      Hapus
  2. Balasan
    1. Semua peristiwa yang kulalui, itu yang bikin aku kuat say

      Hapus
  3. 11 bulan lalu aku merasakannya. Tepat setelah aku bilang, aku ikhlas bu. Juga suami membisikkan ke telinga ibu bahwa dia ikhlas, dia akan menjaga aku Dan anak2. Saat itu juga ibu dengan tenang menghadap illahi Robbi.

    Bersyukur ibu nggak sakit lagi. Namun juga kehilangan teramat sangat :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas kita harus ngalamin adegan kayak di sinetron rasanya saat itu bener gak ya. Gak mau percaya tapi emang gitu kenyataannya

      Cuman itu cara paling baik buat semuanya, Mb

      Hapus
  4. Sedih ya. Aku jd ingat almarhumah Ibuku. Aku menyaksikan beliau menghembuskan nafas terakhir 9 tahun lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih banget, mb. Apalagi melihatnya langsung di depan mata

      Hapus
  5. Aku pernah juga nyaksiin momeNt kyk gini...pas slh satu Bude mau mninggal. Pergi sesaat setelah anak bungsunya bilang "ikhlas"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti sedih banget ya, mb Sulis. Biarpun bukan kita yang ngalamin

      Hapus
  6. Sediih banget berada di posisi mbak, rasa Ikhlas yang sangat berat pastinya ya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya berat, mb. Tapi ketika terakhir saya bisikkan ke Papa ... Perasaan entah saat itu ringan. Tanpa beban. Plong aja

      Allah yang kasih saya kekuatan untuk bisa seperti itu

      Hapus
  7. Aku bilang ke bayiku, Mbak...Lihat dia berkabel-kabel hidupnya, padahal baru 13 hari.
    Nak, Ibuk ikhlas...setiap lihat dia..Dan, dia pun berpulang

    BalasHapus