Sahabatku Seorang Pelakor

by - September 27, 2017




Putih, tidak terlalu tinggi dan badan agak berisi. Seorang perempuan muda berwajah manis kukenal 9 tahun lalu. Kumengenalnya di tempat anak pertamaku sekolah. Sebelum ku kenal dia, sebut saja namanya Manis, cerita tentangnya sudah sering kudengar bahkan sebelum kulihat wajah cantiknya

Manis dari saat pertama bertemu, Manis  tidak pernah tak melepaskan senyumnya kepada semua orang. Dia sosok yang ramah. Setiap bercerita dengan dia, tak jarang tertawanya yang renyah muncul.

Tak butuh waktu lama untukku dekat dengannya. Bersama beberapa kawan yang cukup dekat, kami layaknya sebuah gank anak sekolah. Berlima kami sering mengobrol, jalan-jalan dan makan bersama di rumah kami berlima secara bergantian . Ada yang seusia denganku, ada yang lebih tua sedikit dan ada seorang yang paling tua diantara kami. Namanya Bu Haji yang saat itu usianya hampir 50 tahun. Dan Manis adalah yang paling muda. 5 tahun di bawahku

Manis dengan segala predikat buruk dari orang yang sering membicarakannya, ternyata tak seburuk itu. Dari kedekatan kami inilah, sosok Manis mulai terbuka dengan kami

***

Di usianya yang baru menginjak 18 tahun,  Manis menikah dengan suami pertamanya. Seorang WNA dari Taiwan. Manis bertemu di karaoke tempatnya bekerja. Yah ... Manis adalah seorang pemandu lagu saat dia bertemu suami pertamanya. Dari pernikahan pertamanya inilah Manis mendapatkan anak perempuan. Suaminya sudah punya istri di Taiwan. Manis menjadi istri kedua tanpa sepengetahuan istri pertama. Suami Manis cukup royal. Saat itu Manis selalu mendapatkan uang saku 500 ribu per hari. Bertahan 3 tahun,  pernikahannya pun bubar

Tekanan hidup yang cukup tinggi membuat Manis kembali menjadi seorang pemandu lagu. Kali ini Manis memilih merantau di pulau seberang. Manis bekerja di sebuah karaoke hotel. Di hotel megah itu, Manis berjumpa dengan suami keduanya. Seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil dengan jabatan cukup tinggi

Hubungan yang bermula dari makan di sebuah tempat pun berlanjut menjadi sebuah pernikahan siri. Pernikahan mereka disembunyikan dari istri pertamanya yang saat itu tengah berjuang melawan kanker. Hingga istri pertamanya meninggal,  pernikahan siri Manis tidak diketahui dari keluarga suaminya. Semua tertutup rapat

Setelah menikah, Manis tinggal di sebuah kontrakan dari kayu ulin berwarna coklat tua. Rumah cantik dengan lantai keramik. Manis saat itu membawa anak perempuannya. Dia sudah tak lagi menjadi pemandu lagu setelah menikah lagi. Pekerjaannya hanya di seputar rumah saja.  Menyapu,  mengepel,  memasak dan mengantar anak ke sekolah. Dan disitulah aku mengenalnya

Tak berapa lama dari kedekatan kami berlima. Suami Manis yang dulu seringkali datang, menjadi jarang datang ke rumah kontrakan.  Ternyata suami Manis sakit parah. Dokter mendiagnosa Cyrosis Hepatis. Uang yang biasanya diberikan buat Manis pun mulai berkurang jumlahnya. Tapi itu tak membuat Manis menjauh dari suaminya itu.  Di saat penyakitnya makin parah itulah, mereka menikah secara resmi.  Setiap hari Manis dengan setia merawat suaminya. Manis yang semula mengontrak,  kemudian disuruh tinggal di rumah besar berwarna putih milik suaminya. Perabot di rumah kontrakannya dijual semua dengan harga murah. Dan kami pun berpisah jarak yang cukup jauh, sehingga tak lagi bisa berjumpa

Saat suaminya dirawat di rumah sakit, untuk pertama kalinya aku dan para sahabatku yang lain berjumpa dengan suami Manis. Seorang pria tergeletak lemah di tempat tidur kamar VIP itu. Tak banyak bicara namun kutahu bahwa dia adalah pria yang menyayangi Manis. Hari - hari Manis yang semula ceria, mulai berawan. Tapi Manis tetaplah Manis yang kami kenal. Dia tak pernah menampakkan kesedihannya, meski kami tahu di dalam hatinya sangat sedih. Setiap hari dia dengan kesabarannya merawat suaminya yang tengah sakit parah itu


Hingga di suatu hari, Manis mengabari kami bahwa suaminya telah meninggal. Siang itu sepulang anak-anak kami sekolah, berempat kami berangkat takziyah. Anak-anak kami ajak serta. Dengan menggunakan taksi, kami berangkat kesana. Lumayan jauh sekitar 25 km.

Rumah putih megah itu sudah mulai ramai didatangi para tamu. Manis tampak duduk di pojokan ruang tamu tanpa seorang pun berbicara dengannya. Hingga kami datang,  barulah dia terlihat tersenyum. Tampak wajah sedihnya. Tanpa dia banyak berbicara, kami tahu apa yang ada di dalam pikirannya. " Bagaimana aku dan anakku nanti " seperti itulah yang terlihat dari wajah cantiknya

Setelah menghiburnya, kami berempat  pulang. Dengan banyak rasa cemas dan juga harapan tentang masa depan Manis dan anaknya

Setelah suaminya meninggal Manis masih tinggal disitu. Sesuai dengan pesan suaminya sebelum meninggal ke kawan dekatnya, Manis diusahakan agar dapat uang pensiun. Sambil menunggu urusan surat selesai inilah, Manis tetap bertahan di rumah itu. Dan disitulah cerita sedih terjadi

Anak pertama dari suami Manis sudah menikah. Bersama suaminya mereka tinggal di rumah itu. Menantunya yang lebih tua dari Manis, seringkali menggoda Manis. Colek sana colek sini. Manis mulai stress. Belum lagi dari anak kandung dan saudara - saudara almarhum suaminya. Ada yang merebut paksa barang yang dimiliki Manis hingga penyiksaan verbal berupa kata-kata sadis tak jarang didengarnya. Manis yang pada dasarnya tak banyak bicara dan tak mudah terbuka pada semua orang itu, mulai frustasi

Semua kesedihan itu diungkapkan Manis saat menginap di rumahku. Ketika itu suamiku pergi keluar kota, kuminta dia datang menginap di rumah. Pikiranku hanya satu saat itu, Manis butuh teman. Manis yang biasanya terlihat segar, kali itu terlihat kusam. Wajahnya terlihat banyak pikiran. Manis bertutur dia ingin semua urusan cepat selesai supaya dia bisa kembali ke kampung halamannya di Jawa


Waktu pun berlalu, Manis kembali ke Jawa.  Dan aku sekeluarga pun pindah ke propinsi sebelah. Berpisah dengan para sahabatku. Sempat tak berkomunikasi beberapa waktu. Tiba-tiba hari itu aku rindu sekali dengan Manis. Kutelpon dia, menanyakan kabarnya. Rupanya Manis sudah tidak tinggal lagi di Jawa. Dia kembali menyeberang pulau. Dan dia tinggal di kota tempatku tinggal saat itu

Karena rindu, kuminta dia datang ke rumah. Manis pun menyetujuinya. Malam itu Manis berkunjung ke rumah. Wajahnya sudah mulai ceria, sudah seperti Manis yang kukenal dulu. Seorang pria muda mengantarkan Manis ke rumah. Manis memperkenalkannya kepadaku, namanya Mas. Seorang pria Jawa yang mempunyai usaha dagang

Manis pun bertutur akan menikah dengan Mas. Jika 2 pernikahan sebelumnya Manis menikah siri. Kali ini dia menikah resmi.  Status Mas yang seorang perjaka, memudahkan pernikahan mereka.  Pernikahan pun digelar, Mas yang semula beragama non Muslim mengikuti Manis. Mas menjadi seorang mualaf. Setelah pernikahannya digelar aku kembali berjumpa dengan Manis di rumah mertuanya. Manis tampak lebih bahagia meski dia cukup lelah mendampingi suaminya berdagang

Aku pun kembali pindah ke pulau lain. Meski begitu kami masih sering menanyakan kabar. Terakhir kudengar Manis sudah memiliki anak dua dari pernikahannya dengan Mas. Manis jauh lebih bahagia


Manis, terima kasih telah diberi kesempatan untuk mengenalmu. Dengan berbagai predikat buruk yang melekat padamu dari orang-orang yang tak mengenal siapa dirimu sebenarnya. Kamu telah mengajarkanku tentang menerima apa adanya. Kamu juga membuktikan kepadaku, bahwa setiap orang yang dianggap buruk oleh sebagian lagi ternyata masih mempunyai hati yang bersih

Tulisan ini kupersembahkan untuk Manis yang telah mengajarkan pelajaran berharga buatku. Meski aku tak lagi bisa berkomunikasi denganmu karena kehilangan kontak. Kuharap engkau dan keluargamu bahagia selamanya

***
Rindu dari jauh untuk kalian semua, sahabat. Yang bahkan hingga ku menulis ini, aku tak tahu nama asli kalian. Para Mama yang akan selalu ada di ingatan. Dari foto - foto yang masih selalu kusimpan rapi itulah aku mengenang cerita kita  ...

* sebuah cerita nyata dari sebagian perjalanan hidupku di pulau seberang *








You May Also Like

7 komentar

  1. judulnya bikin deg2an mba abis baca malah kasian syukurnya skerang sdh bahagia dg masnya kadang memang mudah sekali menjugment orang lain dengan sekilas pandangan tanpa tahu cerita yang sesungguhnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama seperti saat aku belum kenal dia, mb. Cerita buruk banyak aku dengar. Setelah kenal baru aku tahu dia gak seburuk itu. Kasihan malah

      Hapus
  2. Saya juga awalnya deg-degan membacanya 😊

    Semoga manis dan keluarganya selalu bahagia di mana pun berada yaa Mbaa, amiin 😇

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ... dari semua ujian yang dihadapinya, semoga Manis bahagia selalu

      Hapus
  3. Pelajaran tentang hidup dan kehidupan yang real. Terimakasih sudah berbagi sehingga saya bisa ikut mengambil pelajarannya...

    BalasHapus
  4. Ga ada orang yang benar-benar jahat dan juga sebaliknya

    BalasHapus
  5. Pelajaran berharga bagi Manis. Tak ada hidup yang benar-benar manis. #eh. Pengalaman membentuknya menjadi pribadi yang tangguh. Semoga bahagia dengan suaminya kini.

    BalasHapus