Pampang, Sebuah Desa Budaya di Pinggiran Kota Samarinda

by - Juni 01, 2017


Rumah Lamin terlihat dari atas ( foto ini milik Blog. MisterAladin.Com )
Mendadak pengen nulis tentang sebuah destinasi wisata di salah satu kota yang pernah saya tinggali. Sempat merasakan sejenak tinggal selama 7 bulan ( kalau saya bilang siy " jalan -jalan " ) di Samarinda, Kalimantan Timur di tahun 2010. Ada beberapa tempat wisata di sana yang saya sukai. Kali ini yang akan saya ceritakan adalah sebuah desa budaya yang bernama Pampang.

Saya agak lupa bagaimana awalnya saya diajak oleh suami untuk ke Desa Budaya Pampang. Kalau tidak salah, saat itu suami diajak kawan kantor untuk berkunjung kesana. Desa Budaya Pampang terletak di Sungai Siring, Samarinda Ulu. Nah dari tempat tinggal saya saat itu di Loa Janan Ilir, Samarinda Seberang, ya lumayan lah jaraknya. Sekitar 37 km

Karena rumah saya berada di Samarinda Seberang, untuk menuju kesana saya harus menyeberangi jembatan Mahakam. Lalu saya melewati kota, naik menuju ke Mal Lembuswana. Masih naik lagi menuju ke arah bandara yang baru. Desa Pampang sendiri berada di sisi kiri jalan poros Samarinda - Bontang. Dari jalan raya, masih masuk ke dalam kira-kira 1 km ( semoga saya tidak salah ingat, maklum udah lama gak ke Samarinda )

***

Jika  kebanyakan wisatawan pergi kesana langsung mengunjungi Lamin Adat untuk menyaksikan tarian yang digelar setiap hari Minggu. Lain halnya dengan kami sekeluarga. Kebetulan Pak Frans ( atasan suami saat itu  ) adalah menantu dari ketua adat disana, jadi kami kesana terlebih dahulu mengunjungi kediaman mertua beliau. Alhamdulillah, kami dan beberapa kawan suami disambut baik oleh  mertua Pak Frans sekeluarga. Bahkan kami diberi makan siang yang nasinya berasal dari beras hasil menanam sendiri di ladang loh

Kakak masih imut

Waktu pakai baju Dayak ini, saya masih langsing ... hihihi

Di bagian depan rumah mertua Pak Frans saat itu terdapat sebuah tempat cindera mata dan saya bisa meminjam baju adat khas Dayak disana. Sempat juga saya dan Kakak meminjam baju adatnya. Setelah dari rumah mertua Pak Frans barulah kami menuju ke rumah Lamin karena sudah saatnya pertunjukan tari digelar

Desa Budaya Pampang diresmikan pada tahun 1991 oleh HM Ardans ( Gubernur Kalimantan Timur saat itu ). Tak perlu berjalan jauh dari rumah mertua Pak Frans, kami sudah sampai disana. Dengan membayar tiket masuk sebelumnya, kami bisa menikmati suguhan tarian khas suku Dayak. Dari referensi yang yang baca, saat ini tiketnya seharga 15 ribu

Tarian adat Dayak di Desa Budaya Pampang digelar setiap hari Minggu dari pukul 2  - 3 siang. Pagelaran tersebut diadakan di Lamin Adat Pamung Tawai. Sebuah rumah panggung yang berukuran cukup panjang dengan ukiran khas Dayak terlihat kental di setiap sudutnya. Rumah adat ini terbuat dari kayu ulin itu terlihat cukup kokoh dengan warna yang didominasi hitam, putih dan kuning. Dan sebuah tangga dari kayu terlihat menyambut tepat di depan, saat saya akan memasuki rumah adat. Dengan atap yang cukup tinggi, suasana di dalam rumah adat cukup sejuk meski tanpa penyejuk udara. Terlihat berderet kursi kayu panjang yang disusun seperti tangga diperuntukan bagi wisatawan saat menikmati pertunjukan tari

Di depan patung ukir, di Rumah Lamin

Dan pertunjukan pun dimulai. Berbagai tarian adat digelar disana, mulai dari tari Bangen Tawai, Hudoq, Kanjet Anyam Tali, Ajay Piling, Kancet Lasan, Nyalama Sakai, Kancet Punan Lettu dan lain-lain. Salah satu bagian yang menarik buat saya saat itu adalah, Pak Frans yang merupakan orang Jogja asli turut ambil bagian dalam pertunjukan tari. Beliau sangat terlihat menjiwai tarian Dayak. Berdua berserta istri beliau yang merupakan putri dari ketua suku disana, menari dengan diiringi alunan musik khas Dayak. Dan saya pun seperti terbuai saat melihat keduanya menari . Tapi yang paling membuat saya dan banyak penonton terpesona adalah saat Pak Frans bermain sumpit, lalu menembakkannya ke sasaran yang berada di atas langit-langit rumah adat. Wow ... tepat pada sasaran

Pak Frans beserta istri sedang menari

Sumpit sedang diarahkan ke sasaran di atas langit-langit

Pak Frans yang asli orang Jogja, beristrikan putri dari ketua suku disana. Terlihat menghayati bukan

Selain tarian yang dipertunjukkan Pak Frans beserta istri, saya juga tertarik oleh tarian yang dipertunjukkan sejumlah anak kecil. Pada tarian ini, pengunjung bisa itu berinteraksi dengan mereka. Dan saya pun gak mau ikut ketinggalan. Lumayan lah sebagai pengalaman. Selesai anak - anak itu menari, pengunjung bisa berfoto dengan mereka. Ya dengan memberi sedikit uang saku lah.

Anak - anak kecil ikut menari

Boleh dong kami ikutan menari

Baru sekarang mikir, kok malah saya yang paling depan ya ... hmmm

Foto bersama Pak Frans dan istri

Pertunjukan selama 1 jam pun selesai, saya tak langsung pulang. Di sisi lain  rumah adat terlihat beberapa penjual menjajakan dagangan mereka. Yang berupa souvenir khas dari suku Dayak seperti kalung, gelang 2 , tas dan masih banyak lagi. Tapi saat itu saya hanya tertarik membeli sebuah potongan kayu kecil yang bisa mengobati sakit gigi. Kayu tersebut direndam di air putih , lalu air rendamannya itulah yang digunakan untuk kumur- kumur sebagai obat. Alhamdulillah kayu itu juga masih tersimpan loh saat ini meski sudah saya bawa pindah - pindah kota

Rasanya puas sekali menikmati pertunjukan disana. Meski 7 tahun telah berlalu, ingin rasanya bisa berkunjung kembali ke Kalimantan Timur bersama keluarga. Ya semoga keinginan saya dikabulkan Allah ... aamiin. Udah dulu ya nulis tentang Desa Budaya Pampang di Samarinda. Next nya, beberapa tempat yang pernah kami tinggali sekeluarga juga akan saya tulis

INDONESIA LUAR BIASA


*Foto saat itu menggunakan kamera Excilim 6 MP tanpa proses pengeditan*


You May Also Like

0 komentar