Menatap Indahnya Danau Toba dari Inna Parapat Hotel

by - Juni 15, 2017


Inna Parapat Hotel di tepi Danau Toba
Weiiiiits, bentar lagi Lebaran ya. Mau mudik kemana niy? Atau yang gak mudik udah punya rencana liburan belum. Cerita liburan kami di Inna Parapat Hotel, mungkin bisa jadi inspirasi liburan Lebaran kalian

Bulan Maret kemarin kami liburan ke Parapat. Tau dong apa yang istimewa dari Parapat?  Yup, Danau Toba. Salah satu keindahan surga dunia yang diciptakan Allah bisa dinikmati di tempat ini

Udah 2 tahun lebih tinggal di Medan, baru itulah kami bisa jalan-jalan ke Parapat. Liburan kemarin itu emang udah jauh hari direncanain. Seperti biasa, sebelum pergi ke suatu tempat saya pasti cari info sebanyak-banyaknya. Terutama masalah penginapan. Maklum jarak Parapat dari Medan cukup lumayan sekitar 4 jam perjalanan. Sayang kan kalau udah sampai sana gak nginap

Untungnya kita hidup di jaman digital begini. Hampir setiap informasi bisa didapat dengan mudah. Sempat galau saat akan memilih hotel. Apalagi cerita "horror" soal penginapan di Parapat kerap saya dengar. Gak bersih dan jorok itu "horror"nya

Oke, akhirnya setelah beberapa pertimbangan. Pilihan jatuh ke 2 hotel besar di Parapat. Inna Parapat Hotel dan salah satu hotel besar yang ada di bukit. Galau karena dua-duanya bagus. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah komentar. Main ke Danau Toba ya harus main air.  Iya ya bener juga. Fix akhirnya pilih Inna Parapat Hotel yang memang letaknya persis di pinggir danau

Agoda jadi aplikasi pilihan saya saat akan menginap di Inna Parapat Hotel. Berkali-kali ngintip harga, Kamis sore itu kami dapat harga terbaik dari Agoda. Lumayan diskonnya plus 10 % lagi kalau pesan lewat aplikasi

Inna Parapat Hotel
Hari yang dinantikan tiba. Kami pun berangkat dari Medan jam 6.30 pagi. Udara yang cukup sejuk dan jalan lumayan padat di hari libur itu. Karena banyak orang Tionghoa pulang untuk berkunjung ke makam leluhur mereka saat Cheng Beng

Dua kali berhenti di SPBU untuk sarapan. Jam 10.30 kami sampai di Parapat.  Wah ternyata masih ada waktu 1,5 jam lagi buat check in. Kami pun turun dulu di Pantai Bebas Parapat. Tempat ini jadi hits setelah pemerintah Kabupaten Simalungun membangun tulisan I Love Danau Toba

Pantai Bebas Parapat
Adik yang dari awal berangkat udah gak sabar pengen masuk hotel ditambah cuaca Parapat siang itu yang panaaaas banget, minta buru-buru masuk hotel. Kami pun menuju ke hotel

Tiba di hotel jam 11.30 rupanya kami gak bisa langsung check in. Kata resepsionis kami baru bisa check in jam 2 karena masih banyak tamu yang belum check out di libur panjang akhir pekan itu. Daripada bengong kami pun memutuskan untuk jalan dulu ke Rumah Pesanggrahan Bung Karno. Tapi makan siang dulu ya. Maklum cacing di perut udah mulai manggil-manggil. Pohon mangga di depan hotel jadi saksi kami makan 😁

Makan siang dulu ya
Karena jarak hotel yang lumayan dekat. Kami jalan kaki aja ke Rumah Pesanggrahan Bung Karno. Matahari lagi ceria banget membuat jarak yang sebenarnya dekat jadi berasa capek. Sampai di Rumah Pesanggrahan Bung Karno kami duduk santai sambil melihat keindahan danau dan Samosir. Dan melihat orang-orang yang sedang bermain air tepat di bawah Rumah Pesanggrahan Bung Karno. Serta sesekali terdengar kapal boat melaju dengan banana boatnya

Rumah Pesanggrahan Bung Karno dengan pemandangan Danau Toba dan Samosir di depannya
Liat jam udah hampir jam 2, kami pun turun lagi ke hotel. Eh rupanya masih belum bisa masuk juga. Nunggu satu jam lagi katanya. Kamar masih dibersihkan. Oke gak papa lah, sambil nunggu saya sama adik jalan-jalan ke belakang. Dan woooow pemandangan menakjubkan terhampar di depan mata. Pasir putih, danau dan bukit terlihat mempesona. Cantik banget

Pemandangan dari dekat resepsionis dan restoran siang itu
Yippy akhirnya kami bisa masuk juga. Kontur tanah yang miring menyebabkan hotel yang menjadi bagian dari Hotel Indonesia Grup ini mempunyai banyak tangga di mana-mana. Bangunan satu dengan yang lain pun terpisah. Lumayan banget buat olah raga

Kontur tanah yang miring bikin hotel ini ada banyak tangga dimana-mana
Tangga yang mini
Bangunan terpisah pisah
Kamar yang kami dapat agak ke ujung tapi gak terlalu bawah sekali. Cukup turun tangga sekali abis itu naik tangga lagi 2 kali ... Hahaha. Soalnya masih banyak kamar yang letaknya lebih turun dari kami

Di kamar tipe family ini terdapat 2 single bed dan 1 double bed. Cocoklah buat kami berempat. Hotel yang usianya udah seabad ini kasurnya empuk, bersih, wangi dan AC baru. Jauh lebih bagus daripada yang di foto lah. Asyiknya lagi semua kamar disini punya view langsung ke danau

Double bed

2 single bed


Hotel toiletries

Inna Parapat 1920

Pasir putih di pantai buatan milik Inna Parapat Hotel ini bikin adik pengen cepet-cepet main air. Untung matahari udah mulai manis manja. Kami bertiga turun ke pantai. Kakak? Main hape aja di kamar katanya. Dan sekali lagi lewat tangga ya. Bener-bener olahraga teruslah disana

Senangnya yang bisa main pasir
Ada bebek-bebekan juga

Hamparan pasir putih buatan yang luas emang salah satu kelebihan Inna Parapat Hotel ketimbang hotel lain di sana. Hotel lain kebanyakan tidak mempunyai pantai. Atau kalau pun ada, bukan pantai berpasir tapi banyak batunya

Pemandangan pantai di pagi hari
Semilir angin sore itu membuat banyak pengunjung hotel bermain di pantai. Ada yang berenang, main pasir dan ada juga yang naik kapal. Suasana sore itu luar biasa. Suara boat lalu lalang dan musik khas Batak Toba dari kapal - kapal penyeberangan bikin hidup suasana.

Kapal khas di Danau Toba

Badan udah capek dan matahari mulai tenggelam, kami kembali lagi ke kamar. Naik tangga ... Naik ... Naik. Wis banyak banget lah tangganya

Malam harinya kami makan bekal dari rumah di kamar. Faktor pengiritan makanya bawa bekal *prinsip ekonomi berlaku*. Udah kelar makan, kami jalan keluar hotel. Gak terlalu ramai ternyata. Lampu kelap kelip dari beberapa hotel disana terlihat. Ada juga penjual makanan berjejer di sepanjang jalan. Sosis bakar, sate Padang dan lainnya.

Malam semakin larut dan kami pun beristirahat. Terjawab juga rasa penasaran saya, kenapa hotel ini memakai AC. Parapat ternyata gak terlalu sejuk ketimbang  Berastagi

Suasana malam disana juga gak sesunyi yang saya bayangkan. Berkali-kali terdengar suara klakson bus atau truk dan ambulans yang melintas di jalur yang menanjak dekat penatapan. Karena itu memang jalur Lintas Tengah Sumatera menuju ke Sumatera Barat dari Sumatera Utara

Pagi pun tiba, selesai sholat Subuh saya dan suami jalan keluar kamar. Meski sudah mendekati jam 6 suasana masih cukup gelap

Sesaat kemudian terdengar lagu yang awalnya saya kira lagu daerah. Ternyata bukan, lagu yang diputar adalah lagu rohani. Suara lagu yang dari pengeras suara gereja cukup membahana di seluruh Parapat. Dan memanggil warga setempat beribadat. Lonceng gereja pun berbunyi menunjukkan sudah jam 6 pagi

Suasana jam 5.45 pagi

Jam 6.30

Matahari yang masih malu-malu bersinar, membawa kami untuk menikmati hotel pagi itu. Melewati beberapa kamar. Tangga juga gak kelewat ya. Sambil olahraga juga menikmati indahnya danau. What a wonderful morning

Noh salah satu tangga, tapi yang ini masih mending. Gak curam

Asyik kan buat jalan pagi
Sambil duduk disini bisa menatap danau

Di balkon ini, pemandangan danaunya cantik sekali

O iya, lupa euy belum cerita. Inna Parapat Hotel ini pernah loh dikunjungi Pak Jokowi saat Karnaval Danau Toba. Tempat yang dipakai bukan tipe kamar. Tapi sebuah rumah mungil cantik dengan batu bata eksposenya menjadi tempat Pak Jokowi menginap beserta ibu Iriana. Kalau mau menyewa rumah itu harganya daleeem bener, dengan tarif enam juta per malam kata pihak hotel. Pas kami kesana ada loh yang lagi nginep juga

Pak Jokowi saat ke Parapat

Rumah kedua dengan batu bata ekspos itulah Pak Jokowi menginap
Kesan Pak Jokowi atas Inna Parapat Hotel

Main lagi di pantai pagi itu adalah suatu keharusan. Abis pemandangannya cantik banget sih. Biarpun gak main air kayak sore semalam.

Tak lama nampak 2 buah kapal penyeberangan bersandar di dekat hotel. Kapal ini melayani pengunjung privat dari hotel ke desa wisata Tomok di Samosir. Kata pemilik kapal buat sewa kapal ini kita harus bayar 900 ribu. Setelah sampai di Tomok penyewa diberikan waktu 2 jam untuk turun. Alhamdulillah bapak pemilik kapal baik banget, kami dikasih kesempatan gratis buat berfoto di atas kapal. Maklum belum punya keberanian buat menyebrang ke Tomok.


Jalan pagi di hotel ini emang enak banget. Udaranya segar, bisa lihat pemandangan cakep plus bisa main sama anak-anak. Ada ayunannya dan bisa ngajakin anak kasih makan hewan loh. Kayak monyet lucu yang ada di kandangnya itu. Monyet? Iya monyet. Selain monyet ada juga burung dan ayam dalam kandang yang bikin anak senang

Kasih makan monyet

Bisa main ayunan juga disana

Pot bentuk gerobak depan rumah bata ekspose
Asyik main eh lupa kalau belum sarapan. Kami pun segera ke restoran. Alhamdulillah ada meja makan kosong persis dekat jendela *sesuai dengan impian sebelum berangkat*. Deretan meja berisi makanan terlihat di restoran untuk para tamu yang akan sarapan. Menunya beragam. Mulai dari snack sampai makanan berat. Kebanyakan khas Indonesia. Rasanya enak sesuai dengan lidah saya. Ya kalau boleh saya nilai 8,5 lah. Anak-anak juga suka

Sarapan plus lihat pemandangan cantik danau itu sesuatu

Bubur ayam ini enak banget

Bukan diskusi kenaikan harga cabe  :D

Ludes des des
Selesai sarapan kami pun bersiap untuk check out lebih awal karena akan mampir ke Pematang Siantar dulu. Barang pun sudah dikeluarkan ke lobby. Tak sengaja mata saya tertuju ke foto Pak Jokowi saat berkunjung ke Inna Parapat Hotel. Bukan sekali saya melihat foto pak Jokowi itu tapi baru saya sadari ada 2 rumah adat sebagai back ground.

Penasaran saya tanya ke pihak hotel tentang keberadaan rumah adat itu. Ternyata rumah adat itu adalah salah satu kamar di hotel ini. Oleh sekuriti kamipun diantarkan ke kamar rumah adat. Pantas aja saya gak ngeh akan keberadaan 2 rumah adat bergaya khas Batak ini. Lah wong pintu masuknya beda.

Rumah adat itu tepat berada di belakang kafe milik Inna Parapat Hotel. Padahal saat jalan ke Rumah Pengasingan Bung Karno saya lewat bagian belakang rumah adat itu. Mungkin karena ketutup pagar saya gak kepikiran kalau itu masuk Inna Parapat Hotel. Dan kami pun diberi kesempatan untuk melihat bagian dalam kamar rumah adat. Etnik banget dengan dinding kayunya berwarna coklat. Pecinta etnik cocok kalau ambil kamar rumah tradisional ini

Kamar rumah adat
Tampak dalam kamar rumah adat. Kamar mandi ada di bawah tangga

Untuk bisa menikmati kamar ini siapkan dana 1,3 juta
Keramah tamahan pegawai hotel, fasilitas oke, makanan enak dan pantainya cantik gak heran bikin hotel ini selalu jadi favorit buat wisatawan yang datang ke Parapat ini. Apalagi kalau mager alias malas gerak keluar hotel kayak kami, hotel ini pas banget buat liburan. Fasilitas kolam renang juga sudah ada loh. Makin memanjakan pengunjung hotel kan. Dan dari hotel ini kita bisa dengan puas menikmati Danau Toba yang terkenal itu 

Tertarik buat liburan Lebaran di Inna Parapat Hotel ? Ayo buruan pesan supaya gak kehabisan kamar










You May Also Like

3 komentar

  1. wah danau toba...Udah lama mupeng mau kemari...Blm kesampaian hehehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah2an bisa wisata ke Danau Toba ya. Banyak hal menarik disana :D

      Hapus
  2. Wah, seru dan bagus sekali pemandangannya. Semoga bisa kesana di waktu mendatang

    BalasHapus